bukankah saat itu kau dan aku saling menyapukan warna dan
menuliskan fakta bahwa kita jatuh cinta? tapi ternyata kau hanya menyusun
daftar isi dan bab terakhir sementara aku terpaksa merangkak menata halaman
demi halaman yang menolak dibaca kembali.
aku inginkan pembatas buku, katamu. lalu kau menyisipkan
pisau tepat di bagian cerita yang ingin aku baca. paragraf yang ingin kau
lupakan. kemudian aku berharap bisa mengenangmu seperti butiran permen berwarna
cerah yang kau beri dahulu sebelum kau membunuhku tanpa sebuah peringatan.
bukankah ketika itu kau berkata akan memberiku kesempatan?