Tampilkan postingan dengan label Poetry. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Poetry. Tampilkan semua postingan

Mengartikan makna



Kusertakan bahagia di ujung jemariku,
Yang kemarin merekat erat pada katun hitammu.
Kusenyumi angin kencang yang seakan bersorak,
Meski sehari lalu meredam obrolan renyah, juga kisah antara kita.

Aku tak tahu rasa apa yang menyelimuti gelapnya bola mata,
Kala kita menapak dalam jarak yang amat tipis,
Serta bicara kali pertama dalam momen yang canggung.
Jelas, kusisipkan bahagia di setiap ucapanku yang tak berarah sama sekali.
Karena satu-satunya yang kupikirkan saat itu adalah bagaimana caranya untuk merekam setiap detik dengan jelas—tanpa cela.

Pun siang hari, ketika kaca jendela basah oleh rinai hujan,
Aku mencemaskanmu, tanpa alasan yang rasional.
Aku merasa rindu, yang menggerogoti setiap celah pikiran.
Juga aku mendambamu, mendamba kehadiranmu, mendamba suaramu di antara riuhnya air mata langit.

Coba kau tanyakan pada rembulan,
Apa makna yang kusenandungkan seiring dengan nada lagumu.
Mintalah pula cerita dari senja,
Bagaimana resahnya menunggu belasan menit detik hanya untuk menerima kabarmu.

Hingga detik ini, aku (masih) tak tahu rasa apa yang melekat pada namamu.
Namun satu yang kumohon,
Tolong jangan buat ini menjadi cinta
Kecuali kalau kau akan membalasnya.

Bait Kata untuk Bait Masa Lalu




Teruntuk masa lalu, lepaskanlah aku dari belenggumu. 
Tidakkah kau lihat, jika dia telah mampu bahagia tanpa aku.

Pergilah rindu yang kini tak bertuan, tak ada lagi tempatmu di hatinya begitu juga di hatiku. 
Jangan datang lagi kepadaku, menyerang hati dan pikiran setiap waktu. 
Padahal kau tahu, sejak kepergian tuanmu, kuharap kau mengikuti jejaknya dan tak lagi menggangguku.

Kenangan, entah apa yang harus kukatakan kepadamu. 
Memintamu lenyap dari ingatan, itu tak  mungkin. 
Suka atau tidak, aku harus menerima kehadiranmu. 
Menyenangkan atau tidak, kau akan tetap mengikutiku.

Masa lalu, cukup sampai di sini kau hadir. Biarkan aku menggapai masa depan, tanpa kau bebani dengan penyesalan atas apa yang telah kulakukan.


Ujung akhir dari sebuah pertemuan





Aku akan berterima kasih kepada semesta, yang dengan berbagai cara telah mempertemukan kita. 
Membuat aku dan kamu tidak lagi menganggap masing-masing sebagai asing.
Membuat namamu terpatri dalam ingatan, seperti akar yang menancap kuat pada tanah. Dalam.
Tapi aku tidak akan menyalahkan semesta jika suatu saat nanti, kita berjalan saling memunggungi. 
Meruntuhkan asa yang sempat kita bangun pada awalnya. 
Karena dipertemukan denganmu membuatku banyak belajar ; mencintaimu salah satunya.
Dipertemukan denganmu, aku belajar banyak tentang penerimaan.
Bahwa menerimamu adalah salah satu bagian paling bermakna dalam sejarah perjalanan hidupku.
Bahwa untuk menggandeng tanganmu dan berjalan menuju arah yang tidak berlawanan, aku, hatiku, otakku, seluruhku, harus menerima seluruhmu. Kekurangan dan kelebihanmu.
Tapi aku lupa, ujung akhir dari sebuah pertemuan adalah perpisahan.
Pendirianku begitu teguh untuk belajar menerimamu.
Hingga aku lupa meluangkan sejenak waktu untuk belajar ; Belajar melepasmu.
Hingga di sinilah sekarang aku. 
Terjebak di antara ruang gelap bernama rindu.
Dikelilingi kabut asa yang menggelapkan mata, 
bernapas dengan udara namamu yang dingin menyiksa dada.



aku pernah memiliki keinginan untuk memutar waktu
dan kembali padamu
menjaga dalam pelukan dan tak melepasnya
sebab kuketahui kau akan pergi jika kubiarkan begitu saja.
sebab kuketahui kau tidak bisa menungguku kembali
—kau tidak pernah bisa; kau tak ingin mencoba.
aku pernah mencintaimu begitu sempurna
sampai ingin rasanya kukoyak hatiku sendiri
karena mengasihimu begitu sakitnya
dan tidak kutemukan caranya berhenti
sesungguhnya mungkin hanya aku 
satu-satunya yang mengetahui bagaimana rasanya berjuang
untuk sekadar mengucapkan kata sayang
aku pernah mengira kau mencintaiku juga,
sama hebatnya dengan hatiku yang kuberikan dengan rela;
dengan tanpa mengharap apa-apa,
kecuali hatimu untukku saja.
tetapi ternyata Tuhan dan waktu lebih mencintaiku
dari kata-kata cintamu yang tak bernyawa itu.
ternyata kau hanya mengajariku bagaimana merakit sakit
untuk menjadi puisi-puisi paling pahit.
ternyata kau cukup terjadi pada hidupku sekali,
untuk selalu ada padaku, 
sebagai puisi patah hati.


-- Lieb

Dua Puisi


kitalah kata yang membusung dada. menceritakan perpisahan penuh keangkuhan. 
kitalah cerita di buku yang tertutup. menuliskan kesedihan dengan sangat setia. 
kitalah dua, yang tak lagi sama. 
kau berjalan menyusuri tapak kepergian. sementara aku, mengikuti dari belakang sembari menulis puisi dengan air mata. 
setiap pagi kau berpulang ke dadaku, serupa kerinduan yang mengundang tangisan. tidak pula aku berani menyebut namamu demi meringankan beban perasaan.

sebab kitalah dua, yang tak lagi bercinta.
kau berjalan di pinggir jalan kenangan. sementara aku, rela mati di tengah jalan oleh kenangan dan angan. 
seperti ini kita. 

akhir cerita yang berbeda dari doa-doa.

-- Lieb


Kebahagiaanmu


segenggam malam yang kelam tak pernah ingin ku antar untuk matamu yang siang.
biar aku saja yang terendam kesedihan dalam gelap bintang.
biar aku saja yang terluka, dan kau bahagia..

bahkan aku ingin mengantar untukmu senja, sebagai lautan doa untukmu tetap bisa tertawa.
aku ingin kau berhenti mengingatku sebagai setumpuk luka.
aku ingin kau berhenti mengingat namaku sebagai yang pernah ada.

biar saja aku di sini hilang di antara entah. gelap tanpa arah.
menangis gelisah.
menanggung segala duka pada kisah.
karena aku ingin kau bahagia, dengan apapun caranya. 
tak apa, jika kau hapus namaku dari ingatan.
tak apa pula, jika kau mencari seseorang yang lebih pantas mendampingi waktumu sesisa kehidupan.
pun aku akan tetap mendoakanmu tanpa putus.
sebab demi kau, ialah kebahagiaan yang harus.

tak apa, kasih.. 
jika kebersamaan kita harus mati di tangan perpisahan.
sebab memilikimu kemarin, sudah cukup membuatku memahami keindahan pertemuan (bahkan perpisahan itu sendiri).

aku tak akan pula menjadi bisu, dalam menyebut namamu di doa-doa anak waktu. 

 -- Lieb