Tampilkan postingan dengan label Coretan Kata. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Coretan Kata. Tampilkan semua postingan
Tuhan, aku sedang dirapatkan serapat-rapatnya pada hela panjang setiap pagi.
Aku hentakkan kebencian pada lantai dingin setiap kembali.
Aku pasang tatap melas pada pintu yang merasa sepi.

Aku tidur, Tuhan. 
Pada punuk-punuk perih disebrang lahan.
Aku bercerita, Tuhan. 
Pada lambai-lambai bengis kesenangan.
Kemudian kau pasti paham, Tuhan. 
Aku yang melalang buana untuk hari didepan. 
Namun dikira mengubur segala yang terang. 
Aku benci diberi prasangka api. 
Aku ini bergerak, Tuhan.
Seperti air, deras namun tidak berkelabak. 
Aku bergerak, sungguh.
Bongkahan yang aku sandang lebih berat daripada egoisku, sebenarnya.
Patahan ceraci tak membantu, aku tau.
Cukuplah. 
Selamat tidur, 
hati yang mengumpat mati.


-kepada yang tabah namun pemarah-


Bait Kata untuk Bait Masa Lalu




Teruntuk masa lalu, lepaskanlah aku dari belenggumu. 
Tidakkah kau lihat, jika dia telah mampu bahagia tanpa aku.

Pergilah rindu yang kini tak bertuan, tak ada lagi tempatmu di hatinya begitu juga di hatiku. 
Jangan datang lagi kepadaku, menyerang hati dan pikiran setiap waktu. 
Padahal kau tahu, sejak kepergian tuanmu, kuharap kau mengikuti jejaknya dan tak lagi menggangguku.

Kenangan, entah apa yang harus kukatakan kepadamu. 
Memintamu lenyap dari ingatan, itu tak  mungkin. 
Suka atau tidak, aku harus menerima kehadiranmu. 
Menyenangkan atau tidak, kau akan tetap mengikutiku.

Masa lalu, cukup sampai di sini kau hadir. Biarkan aku menggapai masa depan, tanpa kau bebani dengan penyesalan atas apa yang telah kulakukan.


Ujung akhir dari sebuah pertemuan





Aku akan berterima kasih kepada semesta, yang dengan berbagai cara telah mempertemukan kita. 
Membuat aku dan kamu tidak lagi menganggap masing-masing sebagai asing.
Membuat namamu terpatri dalam ingatan, seperti akar yang menancap kuat pada tanah. Dalam.
Tapi aku tidak akan menyalahkan semesta jika suatu saat nanti, kita berjalan saling memunggungi. 
Meruntuhkan asa yang sempat kita bangun pada awalnya. 
Karena dipertemukan denganmu membuatku banyak belajar ; mencintaimu salah satunya.
Dipertemukan denganmu, aku belajar banyak tentang penerimaan.
Bahwa menerimamu adalah salah satu bagian paling bermakna dalam sejarah perjalanan hidupku.
Bahwa untuk menggandeng tanganmu dan berjalan menuju arah yang tidak berlawanan, aku, hatiku, otakku, seluruhku, harus menerima seluruhmu. Kekurangan dan kelebihanmu.
Tapi aku lupa, ujung akhir dari sebuah pertemuan adalah perpisahan.
Pendirianku begitu teguh untuk belajar menerimamu.
Hingga aku lupa meluangkan sejenak waktu untuk belajar ; Belajar melepasmu.
Hingga di sinilah sekarang aku. 
Terjebak di antara ruang gelap bernama rindu.
Dikelilingi kabut asa yang menggelapkan mata, 
bernapas dengan udara namamu yang dingin menyiksa dada.


Karena kita adalah sebuah akhir



Akan benar-benar ada waktu itu, ketika aku dan kamu tidak lagi dapat bertemu pada kesamaan ruang dan waktu.
Tentu saja ada yang akan menghilang lebih dulu, entah aku atau kamu.
Namun pada saat itu, aku berharap sudah tak lagi menitipkan sesuatu padamu dan menjaga apapun milikmu.
Ketika itu, aku mau tidak ada lagi yang perlu diikhlaskan. 
Karena sekarang kita sudah memilih untuk melakukan kesepakatan, tak lagi bersama, ada dalam salah satu pilihannya.
Saat ini Tuhan memberikan keadaan dimana kita tak menjadi apa-apa seperti sebelumnya, saat hati belum memutuskan untuk memilih itu cinta, saat belum ada keterkaitan antara keduanya. 
Saat kita belum tahu rasa, bahkan nama.
Berjalan bersama dalam keterasingan membuat kita menjadi kesia-siaan yang bersikeras dipertahankan.
Percayalah aku bukan seorang pelupa yang hebat, 
karena bahkan detil kalimatmu saja masih kuingat, 
disaat kita memilih membagi suatu rasa yang tak dapat di lihat. 
Kita terlalu cepat melesat dan mengabaikan firasat yang Tuhan buat.
Ada lebih banyak yang seharusnya dipertimbangkan,
dari pada sekadar bersama saling berjanji membahagiakan.
Sesuatu yang sudah pasti terjadi saat kita tak lagi saling mengerti. 
Sebuah jemu saat kita menemu jalan buntu.
Saat kamu dan aku memutuskan untuk pulang,
membawa kenang yang bertumpuk-tumpuk melayang.
Setelah ini, aku tak pernah berencana untuk membuat kenangan menjadi serpihan. Bahkan jika kamu juga melakukan yang sama, maka jangan pernah menyimpan sesal yang menyiksa.
Yakinlah kita berdua akan baik-baik saja. 
Membagi rindu yang tak pernah lagi sampai pada masing-masing kita.
Masih ada satu lagi janji baru yang kuharapkan kamu akan berkata “iya” : berbahagialah disana meski bukan aku yang membuatkannya.
Sajak Menghitung Langkah Pergimu

Sajak Menghitung Langkah Pergimu

satu dua tiga,
sajak ini menghitung langkah pergimu.
satu,
kutemukan cinta tak lagi tumbuh 
di sepasang dada kita.
lupakanlah, kataku,
kau harus segera pergi
sebab aku tak mampu memberimu bahagia
sekali lagi.
dua,
di antara kita
engkau tidak pernah menuliskan apa-apa
tak perlu pula kita
berpura-pura sedang menghapus sesuatu.
sebab pada mulanya,
kita ialah perpisahan yang hanya sebentar tertunda.
tiga,
aku tak akan melupakan hari itu,
ketika kita begitu angkuh berbagi seluruh,
tanpa pedulikan lambaian-lambaian tangan perpisahan 
yang begitu siap 
menampar kau dan aku.
maka bacalah, sajak ini,
huruf-huruf yang memohonmu pergi.
--Lieb
Semuanya Sibuk Sendiri

Semuanya Sibuk Sendiri


Aku marah, Aku benci
Aku ingin memaki
Berteriak kepada dunia
Berkeluh kesah
Mengeluarkan isi hati
Lalu…
Aku kembali perpikir
Merenung tentang apa yang kuingini
Tiada guna marah-marah
Hanya membuang-buang energi
Mengalirkan energi hitam
Membuat hati padam
Ya, tak ada gunanya berteriak
Tak ada yang peduli
Semua orang sibuk mengurusi dirinya sendiri
Begitu juga aku
Sibuk membangun mimpi
Sibuk dengan duniaku sendiri
Akhirnya aku lebih mengerti
Dunia memang seperti ini


Happy New Year 2016

Hai Assalamualaikum



Happy New Year
Happy New Days
Happy New Dreams
Happy New Desires
Happy New Ways
Happy New You

It's time to start again. Stop thingking about what you're going to do and start doing it.
It's time to live your life and be who you are.
Forget about whatever hapenned in 2015 and just MOVE ON!
Take risks and be yourself, you only have one life, and it's times  to make the most of it.
Make new year's resolution and this time achieve it no matter what the cost is.

Be kind to yourself in the year ahead.
Remember to forgive yourself, and to forgive others. It’s too easy to be outraged these days, so much harder to change things, to reach out, to understand.
Try to make your time matter: minutes and hours and days and weeks can blow away like dead leaves, with nothing to show but time you spent not quite ever doing things, or time you spent waiting to begin.
Meet new people and talk to them. Make new things and show them to people who might enjoy them.

 Smile too much.  And, when you can, love.
Good Bye 2015 Hello 2016

Good Bye 2015 Hello 2016

Dear 2015,
Thankyou for all memories, I’ve learned a lot this year.
you gave me some genuine hard times that even now seems endless. you made me cry and broke me a few too many times.
You were the most challenging year, I ever had to face. You were the year, that I had to learn so many things all at once, I want to thank you for that. It makes me so much stronger, I think I am ready to face everything what 2016 holds for me.
now I reflect on all that you have brought me and I pray 2016 will be better.
Bye Bye 2015

Dear 2016,
You have no idea how excited I am for you. I have so many expectations.
Bring new people into my life. They could be new friends, new romances, anything.
Bring new opportunities. I love the feeling of opportunity that a new year brings. 
I want to try so many new things this year.
Most importantly, bring happiness. My goal for this year is to be really, truly happy, and being my best self.
2015 was a good year. 2016 Please be even better.


Hello 2016, I’m ready!
Beginilah Mencintaimu

Beginilah Mencintaimu

Aku ingin berada di sana, di tempatmu berada, di sampingmu, bersisian
Dan akan aku tagih pelukan-pelukan yang kau janjikan
Kemudian sama-sama tenggelam dalam cerita yang bukan lagi sekedar bermimpi
Sentuhan yang selama ini saling kita idamkan

Aku ingin tetap membayangkanmu memelukku
Bukan sekarang, tak apa
Mungkin nanti, suatu hari
Di saat aku sudah berhadapan denganmu, dan siap kau rengkuh

Aku tidak pernah tau bahwa cinta bisa sebesar ini lahir dari dadaku
Belum pernah mengira bahwa mimpi bisa seliar ini


Beginilah; mencintaimu.
Lagi lagi sajak tentang Rindu

Lagi lagi sajak tentang Rindu

Pelan-pelan aku semakin tenggelam
Dalam genang kerinduan yang kejam
Menguliti sajak-sajakku tanpa dendam
Tetapi meninggalkanku dalam diam

Aku tau
Lelaki itupun juga membalas rinduku
Dan menyuruhku menunggu di baris gersang sang waktu
Yakni beribu sabar yang kian menantang laju

Dan hati ini yang tanpa jendela
Dindingnya semakin kusam tak berwarna
Menyudutkan aku dalam sepi-sepi cinta
Membahasakan rindu tanpa gelak tawa


Harus bagaimana lagi aku bahasakan rindu?

Selain menangisi waktu..
Selain menimang sendu..
Selain menyerapah jarak..
Dan selain mengadu dalam sajak